Astagfirullah!! teman saya ini agamis namun kenapa jadi begini?

Kehidupan ini memang ada pasang surutnya sejalan dengan bergeraknya waktu, terkadang dibawah dan terkadang diatas. Ketika lagi diatas kita harus bersyukur perbanyak berdoa dan ketika dibawah harus banyak sabar dan lebih banyak berdoa agar kembali seperti kita lagi diatas. Akhir-akhir ini kehidupan rasanya sulit apalagi sepertinya banyak sekali pengeluaran misalnya untuk biaya sekolah anak yang tidak boleh tidak anak kita harus sekolah yang terkadang uang apa saja dipertaruhkan yang penting anak bisa sekolah. Ada cerita yang memprihatinkan dari temanku yang kesehariannya menjadi tukang servis elektronik. Dia memiliki anak 6 orang semuanya sudah sekolah dan biayanya hanya mengandalkan dari hasil servis. Karena hasil servis tidak mencukupi untuk menutupi kebutuhan sehingga akhirnya dia mengajukan pinjaman ke bank dan disetujui, setelah beberapa bulan berjalan dan ke bank harus tetap setor tidak boleh alfa, karena pemasukan kurang dan dikarenakan pengeluaran bertambah besar maka setoran ke bank menjadi terkatung-katung yang akhirnya selama beberapa bulan tidak bisa setor, sehingga pihak bank mau menyita anggunan yakni rumahnya yang cuma satu-satunya dia tinggali bersama istri dan anak-anaknya. 


Astagfirullah, dia berbicara ke saya harus ke gunung mana yah biar saya dapat uang? Saya terperangah mendengarnya karena saya tahu dia sangat agamis. Mungkin karena gak kuat dengan desakan pihak bank yang terus menerus menelepon dan datang ke rumahnya untuk segera kewajibannya ditunaikan sehingga yang ada di pikirannya adalah bagaimana cara mendapatkan uang secepat mungkin, karena kalau rumah sampai disita bagaimana dan dimana anak-anak dan istrinya tinggal, bagaimana pula dengan cibiran tetangganya kalau rumah sampai disita. Saya hanya bisa berkata sabar dan sabar yang harus dilakukan karena mungkin ini adalah ujian dari Allah yang Maha Besar. Dan ini mungkin adalah jalan yang terbaik yang diberikan Allah kepadanya. 

Ada lagi teman saya baru saja saya temui, ini sungguh memprihatinkan. Dia cerita 2 bulan yang lalu istrinya meninggal karena penyakit. Dia merasa kehilangan dan sangat kesusahan karena ketiga anaknya harus dia urus sendiri dari mulai mandi, makan, mencuci dan menafkahi semua anak-anaknya. Saya merasa sedih dan iba dibuatnya, katanya anaknya yang tua yang sudah di SMA menangis karena sudah lama tidak bisa bayar uang sekolah, dia malu sama teman-temannya. Dia meminta bantuan saya untuk memberikan pinjaman demi kebutuhan anaknya sekolah. Ya Alloh, sebenarnya saya juga lagi butuh banyak uang karena usahaku juga lagi menurun. Saya ingin sekali membantunya lebih dari yang ia minta tapi apalah daya. Saya hanya bisa berdoa semoga teman-temanku tersebut usahanya bisa maju dan sukses sehingga mereka terbebas dari kesulitan dan kesedihan. Dan juga usahaku bisa berjalan normal kembali dan bisa lebih sehingga saya bisa membantu orang-orang yang kesusahan. 

Bagiku cerita ini menjadi pelajaran berharga bahwa kita harus selalu bersyukur dan bersabar dengan apa yang kita miliki dan kita alami. Dan mulai hari ini harus belajar hemat dan menabung untuk menjaga suatu waktu kita membutuhkan dana yang besar yang tidak kita duga duga sebelumnya. Dan kita harus selalu dekat dengan orang-orang yang soleh dan banyak belajar tentang agama agar senantiasa kita bisa terjaga dari perbuatan yang dilarang dan dibenci oleh Allah SWT.

No comments

Ada pertanyaan atau komentar?
Silahkan sampaikan komentar anda pada form di bawah ini. Tetapi mohon maaf, komentar spam, menanam link, dan komentar yang tidak sesuai topik artikel tidak dapat kami terbitkan. Terima kasih.